RSS

BAHAN BACAAN MO; From commodity to experience

28 Sep


From commodity to experience

written by: antoniludfi.blogspot.com

Sewaktu perjalanan pulang ke Lampung, saya coba menggunjungi kebun milik orang tua; ada sebidang hamparan kebunkopi disana. Sebagai “pecandu” kopi, yang setiap hari musti menyeruput kopi, apalagi kalo lagi ngantuk, pas rasanya kalo minum kopi kental. Karena, kopi mengandung caffeine, yang dapat merangsang aktifitas syaraf psikomotorik; sehingga peminum kopi cenderung aktif dan nggak ngantuk seharian. Saya teringat dahulu, kopi-kopi yang dipanen ini, kemudian dikupas kulitnya dengan ditumbuk atau dengan alat pengupas sederhana seperti dengan lumpang dan kayu, gilingan kayu atau gilingan besi; lalu dikeringkan oleh orang tua saya di atas tikar atau lantai, beberapa hari untuk mengurangi kadar airnya. Nach, kopi kering inilah yang dijual oleh para petani termasuk ayah saya tadi ke pedagang besar atau para eksportir kopi. Kopi-kopi ini merupakan komoditas pertanian. Sebagai daerah agraris, banyak sekali komoditas pertanian yang bisa dihasilkan, sebut saja pisang, singkong, karet, lada, dan banyak lagi.

Bicara soal kopi tadi, komoditas yang dijual oleh banyak petani di daerah saya, sebenarnya komoditas ini; dapat ditingkatkan nilai tambahnya (create value added). Oleh sebagian besar orang, komoditas kopi ini diolah menjadi kopi bubuk untuk dikonsumsi sendiri atau dijual lagi ke pasar. Pengolahan kopi ini, ada yang dilakukan secara tradisional atau semi modern. Kopi bubuk yang diolah, kemudian dikemas ke dalam plastik ukuran seperempat, setengah, dan satu kilogram, bahkan dikemas dengan harga jual limaratus atau seribuan; dijuallah kopi bubuk kemasan dengan harga lebih tinggi dari biji kopi kering. Sebenarnya, kalo saya lihat mereka yang melakukan pengolahan biji kopi menjadi kopi bubuk tidaklah sulit. Biji kopi yang telah dikeringkan, kemudian disangrai, dengan panci sampai berwarna hitam kering dan mengeluarkan aroma sedap-kopi; setelah disangrai, biji-biji kopi tersebut, ditumbuk secara tradisional, atau dihaluskan dengan mesin penghalus, maka jadilah serbuk kopi siap saji.

Oleh beberapa industri besar, komoditas kopi dan produk olahan biji kopi tersebut, di-branding dengan aktifitas promosi dan pemasaran, menjadi merek-merek terkenal; sebut saja yang ada, Kopi Kapal Api, Excelso, ABC, Good Day, Santos, Kapten, Nescafe, Kopi Cap Singa, Kopi Cap Lampung; atau mungkin “Kopi Neng Sari”. Kopi-kopi ini telah menjadi brand, yang bukan lagi komoditas yang murah.

Bahkan, komoditas, produk, dan brand kopi tadi, kemudian di-leverage menjadi “pengalaman menikmati kopi” atau ‘experience’ maka, pengalaman tersebut, dikemas ke dalam café-cafe sebut saja Starbucks, The Coffee Bean, Excelso, atau Bakul Kopi. Sebagai pekerja di bisnis konsultasi, keseringan saya untuk bertemu dengan klien juga sering memanfaatkan kedai-kedai ini, untuk menikmati suasana yang nyaman sambil berbicara pekerjaan dengan klien saya. Berbeda dengan kopi sebagai produk, atau minum kopi dengan merek “Nescafe” di rumah; experience ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mungkin menjadikan pilihan kita dalam menentukan kedai mana, tempat kita menikmati experience ini.

Pertama adalah servicscape, yaitu menunjukan tempat atau lingkungan fisik (physical evidence) dimana experience itu berlangsung. Karena konsumen kadang kesulitan dalam mengevaluasi kualitas dari experience yang diharapkan, apalagi minum kopi, yach sama saja dimanapun, tetapi lingkungan fisik dari kedai tempat ngopi dapat membantu kita memilih kedai mana yang memberikan experience yang paling memorable. Physical evidence ini berupa suasana yang bersih, nyaman, cozy, dengan musik yang “romantic,” jenis furnishing yang digunakan, atau equipment yang terlihat dikedai tersebut.

Kedua, contact personal/service provider; interaksi antara kosumen dengan pelayan kedai juga menentukan penilaian, sifat yang ramah, menyenangkan, serta bersahabat menciptakan suasana yang “dramatic” membuat kita diperlakukan layaknya “pembeli adalah raja.” Interaksi pelayanan yang dilakukan karyawan terhadap konsumen akan menciptakan kesan “moment of truth” apabila pelayanan tersebut menyenangkan.

Ketiga, other customer, konsumen lain berperan dalam kenyamanan dalam menikmati “experience” di kedai-kedai ini, ada yang berperpengaruh negatif, seperti suasana yang crowded, membuat konsumen menjadi “gerah;” atau mungkin sebaliknya, suasana yang ramai dapat menimbulkan interaksi komunitas yang saling “sharing’ dan berkenalan. Hal ini haruslah dikelola dengan baik oleh kedai-kedai tersebut agar interaksi antarkonsumen dapat menibulkan suasana “kekeluargaan” dan muncul perasaan (feelings) adanya “social approval” antara konsumen tentang “self expressive” yang dapat menciptakan persepsi ngopi di kedai ini, menjadi konsumen “kelas” tertentu.

Sedangakan yang keempat adalah organization and systems, ini merupakan faktor internal kedai, dimana system manajemen yang baik, mulai dari proses greeting, payment, sampai menikmati “experience” ini berjalan dengan baik, layaknya proses “dramatically.” Manajemen harus memiliki komitmen untuk bagaimana proses offering experience yang memuaskan konsumen ini, konsisten diterapkan pada proses operasionalisasi kedai sehari-hari.

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: